memperpanjang usia sistem yang rusak ini.
Demokrasi juga menjadi alat untuk memperkuat intervensi asing lewat tokoh dan parpol yang didukung Barat, menimbulkan suasana konflik masyarakat, internal parpol, dan antar parpol. Pemerintah dan elite politik yang terpilih juga tidak pernah fokus mengurus rakyat karena sibuk mengurus perpanjangan kekuasaan.
Biaya politik yang besar juga telah menyedot uang rakyat, yang seharusnya bisa digunakan untuk kesejahteraan mereka. Biaya demokrasi yang mahal itu menjadi pintu bagi politik transaksional yang menumbuh suburkan moneypolitic, praktik kolusi, dan korupsi.
Sayangnya perubahan ekstra parlemen ini baru sebatas keinginan pergantian rezim. Tanpa visi, perubahan bisa dibajak oleh berbagai kepentingan. Seperti kepentingan rezim lama yang berganti wajah menjadi pendukung rakyat dan terkesan reformis.
Langkah ini pun rawan dibajak kepentingan asing. Perubahan terjebak menjadi alat revitalisasi dominasi negara besar dengan.mengangkat rezim baru yang tetap dalam kontrol mereka. Amerika yang selama 30 tahun mendukung rezim Mubarak yang diktator, berubah arah seakan-akan menjadi pembela rakyat Mesir untuk tetap mempertahankan kepentingannya.
Namun,gerakan people power apalagi tanpa dukungan ahlul quwwah (kelompok militer)—bisa berujung pada pertumpahan darah, kekacauan, perusakan hak milik umum, konflik horizontal hingga pembantaian sesama umat Islam. Kecenderungan ini terjadi di Libya. Dan jika rakyat tidak berhasil menumbangkan rezim, penguasa akan tambah bengis dan paranoid.
Karena itu, seharusnya kita belajar dari perubahan yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. Dengan dasar keimanan Rasulullah memiliki visi yang jelas, yaitu bagaimana agar Islam bisa diterapkan di tengah-tengah masyarakat. Untuk itu Rasulullah SAW melakukan dua hal penting berupa penyadaran masyarakat tentang Islam dan mencari dukungan (an nushroh) dari ahlul quwwah berupa pemimpin-pemimpin kabilah. Rasulullah SAW mengajak mereka masuk Islam dan meminta mereka memberikan dukungan kepada kekuasaan Islam.
Lewat upaya yang sungguhnya-sungguh akhirnya, masyarakat Madinah sadar, siap, dan rela diatur oleh Islam. Sementara ahlul quwwah (para pemimpin kabilah dari Aus dan Khazraj) dengan ikhlas dan tanpa syarat menyerahkan kekuasaan kepada Rasulullah SAW dengan mengangkatnya menjadi kepala negara. Inilah yang menjadi kunci kenapa perubahan yang dilakukan Rasulullah SAW meskipun bersifat inqilabiyah (mendasar dan menyeluruh), nyaris perubahan itu tanpa pertumpahan darah. Inilah yang harus kita tiru!
*
Demokrasi juga menjadi alat untuk memperkuat intervensi asing lewat tokoh dan parpol yang didukung Barat, menimbulkan suasana konflik masyarakat, internal parpol, dan antar parpol. Pemerintah dan elite politik yang terpilih juga tidak pernah fokus mengurus rakyat karena sibuk mengurus perpanjangan kekuasaan.
Biaya politik yang besar juga telah menyedot uang rakyat, yang seharusnya bisa digunakan untuk kesejahteraan mereka. Biaya demokrasi yang mahal itu menjadi pintu bagi politik transaksional yang menumbuh suburkan moneypolitic, praktik kolusi, dan korupsi.
Sayangnya perubahan ekstra parlemen ini baru sebatas keinginan pergantian rezim. Tanpa visi, perubahan bisa dibajak oleh berbagai kepentingan. Seperti kepentingan rezim lama yang berganti wajah menjadi pendukung rakyat dan terkesan reformis.
Langkah ini pun rawan dibajak kepentingan asing. Perubahan terjebak menjadi alat revitalisasi dominasi negara besar dengan.mengangkat rezim baru yang tetap dalam kontrol mereka. Amerika yang selama 30 tahun mendukung rezim Mubarak yang diktator, berubah arah seakan-akan menjadi pembela rakyat Mesir untuk tetap mempertahankan kepentingannya.
Namun,gerakan people power apalagi tanpa dukungan ahlul quwwah (kelompok militer)—bisa berujung pada pertumpahan darah, kekacauan, perusakan hak milik umum, konflik horizontal hingga pembantaian sesama umat Islam. Kecenderungan ini terjadi di Libya. Dan jika rakyat tidak berhasil menumbangkan rezim, penguasa akan tambah bengis dan paranoid.
Karena itu, seharusnya kita belajar dari perubahan yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. Dengan dasar keimanan Rasulullah memiliki visi yang jelas, yaitu bagaimana agar Islam bisa diterapkan di tengah-tengah masyarakat. Untuk itu Rasulullah SAW melakukan dua hal penting berupa penyadaran masyarakat tentang Islam dan mencari dukungan (an nushroh) dari ahlul quwwah berupa pemimpin-pemimpin kabilah. Rasulullah SAW mengajak mereka masuk Islam dan meminta mereka memberikan dukungan kepada kekuasaan Islam.
Lewat upaya yang sungguhnya-sungguh akhirnya, masyarakat Madinah sadar, siap, dan rela diatur oleh Islam. Sementara ahlul quwwah (para pemimpin kabilah dari Aus dan Khazraj) dengan ikhlas dan tanpa syarat menyerahkan kekuasaan kepada Rasulullah SAW dengan mengangkatnya menjadi kepala negara. Inilah yang menjadi kunci kenapa perubahan yang dilakukan Rasulullah SAW meskipun bersifat inqilabiyah (mendasar dan menyeluruh), nyaris perubahan itu tanpa pertumpahan darah. Inilah yang harus kita tiru!

0 comments: