BOLEHKAH FAKTA DIJADIKAN SUMBER HUKUM?
11:24 PM | Author: el-Hafiy
Soal:
Bolehkah menjadikan fakta/realitas sebagai sumber hukum? Benarkah menggunakan maslahat sebagai dalil, sama dengan menggunakan fakta/realitas sebagai sumber hukum?
Jawab:
Sumber hukum (mashadir al-ahkam), oleh ulama ushul fikih kadang juga disebut dalil hukum (adillatu al-ahkam) dan akar hukum (ushul al-ahkam), yaitu sumber yang dijadikan dasar untuk menarik kesimpulan hukum (istidlal) maupun menggali hukum (istinbat).[1]
Para ulama ushul telah membagi sumber hukum tersebut menjadi dua, yaitu sumber yang disepakati (mashadir muttafaqah ‘alayha) dan sumber yang diperselisihkan (mashadir mukhtalafah fiha).[2] Ada juga yang membagi menjadi dua, yaitu dalil syar’i (al-adillah as-syar’iyyah) dan apa yang diduga sebagai dalil, padahal bukan dalil (ma dzanna annahu dalil, wa laysa bi dalil).[3]
Masalah mana yang layak dan tidak layak disebut dalil telah menjadi perdebatan panjang di kalangan ulama ushul. Hanya saja, perlu digarisbawahi, bahwa sesuatu yang layak disebut sumber (mashadir), dalil (‘adillah) atau akar (ushul), kehujjahannya harus dinyatakan oleh dalil qath’i, dan bukan dalil zhanni. Dalam hal ini, Asy-Syathibi menyatakan, “Dalil-dalil yang dijadikan sandaran dalam ilmu ini (ushul fikih) tidak boleh tidak, kecuali harus qath’i.”[4]
Karena itu, kami menegaskan, bahwa yang layak disebut sebagai sumber hukum hanyalah al-Quran, as-Sunnah, Ijmak Sahabat dan Qiyas. Adapun yang lain, menurut kami, tidak layak dijadikan sebagai dalil, meski tetap bisa saja disebut sebagai syubhat dalil. Karenanya, hukum yang ditarik atau digali darinya tetap layak disebut sebagai ra’y[un] islami, atau hukum syar’i bagi orang yang menarik dan menggali hukum dari syubhat dalil tersebut, meskipun bagi kami tidak.
Adapun boleh dan tidaknya fakta menjadi sumber hukum, sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari pembahasan tentang siapa yang berhak menjadi hakim (al-hakim); akal atau syariah? Dalam hal ini ada dua mazhab. Pertama: mazhab Syiah dan Muktazilah, yang menyatakan bahwa akal bisa dijadikan sebagai sumber hukum. Kedua: mazhab Ahlussunnah, dan jumhur ulama kaum Muslim yang menyatakan, bahwa akal tidak bisa dijadikan sebagai sumber hukum.[5]
Perdebatan ini sebenarnya terkait dengan masalah taqbih wa tahsin (penentuan baik dan buruk). Bagi Muktazilah dan Syiah, akal berhak menentukan baik dan buruk, sementara bagi Ahlussunnah tidak. Bagi Ahlusunnah, penentuan baik dan buruk adalah otoritas syariah. Al-Qadhi al-Baqillani menyatakan:
اَلْحَسَنُ مَا حَسَّنَهُ الشَّرْعُ وَالْقَبِيْحُ مَا قَبَّحَهُ الشَّرْعُ
Baik adalah apa yang dinyatakan baik oleh syariah, sementara buruk adalah apa yang juga dinyatakan buruk oleh syariah.[6]
Hanya saja, dalam rinciannya, para ulama Ahlusunnah membuat tiga kategori: Pertama: dilihat dari aspek mahiyah (fakta zat)-nya. Kedua: dilihat dari aspek sesuai dan tidaknya dengan fitrah manusia. Ketiga: dari aspek pujian dan celaan (madh wa dzamm); juga pahala dan dosa (tsawab wa iqab) dari Allah yang menyertainya. Pada kategori pertama dan kedua, akal bisa digunakan oleh manusia untuk memutuskan sehingga mereka bisa berkesimpulan, bahwa adil baik, jujur baik, curang tidak baik, bohong tidak baik, dan seterusnya. Namun, ketika adil, jujur, curang dan bohong itu dikaitkan dengan konsekuensi pujian dan celaan, juga pahala dan dosa dari Allah, maka akal tidak bisa. Karena itu, hukum syariah masuk dalam kategori ketiga. Dengan begitu, jelas akal tidak bisa dan tidak boleh dijadikan sebagai sumber hukum. Satu-satunya yang harus dijadikan pemutus adalah syariah.[7]
Inilah argumentasi pihak yang menjadikan fakta sebagai sumber hukum, yang secara syar’i maupun nalar, jelas tidak bisa diterima. Adapun argumentasi lain, sebagaimana yang disebut-sebut oleh pentolan JIL, bahwa fakta bisa dijadikan sebagai sumber hukum dengan menganalogikannya pada kasus mashalih mursalah, bahkan kemudian menisbatkan pendapat tersebut kepada al-Imam Najmuddin ath-Thufi (w. 716 H) dalam kitab Syarh al-‘Aba’in, sebenarnya merupakan kesimpulan yang gegabah, sekaligus menunjukkan dua hal: kebodohan yang bersangkutan dalam memahami ushul fikih, terutama pendapat ath-Thufi, dan niat tidak baik, yaitu membajak pendapat ath-Thufi untuk menjustifikasi sikap dan pandangannya.
Meski kami berpendapat bahwa maslahat (mashlahah) bukanlah dalil dan ‘illat hukum syariah, menggunakan maslahat sebagai dalil dan ‘illat hukum syariah tidak bisa disamakan dengan menggunakan akal atau fakta sebagai sumber hukum. Imam Abu Zahrah menyatakan, “Jumhur fuqaha tidak menjadikan akal sebagai hakim, tetapi mereka mengembalikan sesuatu yang tidak ada nashnya pada sesuatu yang dinyatakan oleh nash, dengan berbagai pendekatan yang berbeda. Ada yang menggunakan Qiyas, Istihsan, atau mengembalikannya pada Mashalih Mu’tabarah secara syar’i, meski tidak didukung dengan dalil khusus.”[8]
Dengan demikian, menggunakan maslahat sebagai dalil atau ‘illat hukum tidak bisa dianggap menggunakan akal atau fakta sebagai sumber hukum. Sebab, mereka masih merujuk pada nas, baik langsung maupun tidak.
Adapun pendapat ath-Thufi yang menyatakan:
وَرِعَايَةُ الْمَصْلَحَةِ الْمُسْتَفَادَةِ مِنْ قَوْلِهِ عَلَيْهِ السَّلاَم: (لاَضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ) وَإِنْ خَالَفَاهَا وَجَبَ تَقْدِيْمُ الْمَصْلَحَةِ عَلَيْهِمَا بِطَرِيْقِ التَّخْصِيْصِ وَالْبَيَانِ لَهُمَا وَلاَبِطَرِيْقِ الإِفْتِئَاتِ عَلَيْهِمَا وَالتَّعْطِيْلِ لَهُمَا، كَمَا تَقَدَّمَ السُّنَّةُ عَلَى الْقُرْآنِ بِطَرِيْقِ الْبَيَانِ.
Mengurus kemaslahatan yang diambil dari sabda Nabi saw. (Tidak boleh ada bahaya dan ancaman), jika keduanya (nas dan ijmak) bertentangan dengan maslahat, maka maslahat harus didahulukan daripada keduanya dengan cara menjadikan maslahat sebagai pen-takhshis dan penjelasan bagi keduanya, bukan dengan cara mengalahkan keduanya atau mengabaikannya, sebagaimana as-Sunnah didahulukan atas al-Quran dengan cara menjadikannya sebagai penjelasan.[9]
Pandangan ath-Thufi ini sebenarnya dalam konteks pembahasan tentang thariq al-jam’i (metode kompromi) di antara sejumlah dalil yang bertentangan. Beliau menegaskan, “Maslahat dan dalil-dalil syariah yang lain kadang sejalan, dan kadang bertentangan. Jika sejalan maka tentu cukup dengan itu…sebagaimana nash, ijmak dan maslahat sepakat untuk menetapkan lima hukum kulliyyah dharuriyyah…Jika keduanya bertentangan maka sebisa mungkin dikompromikan…Jika tidak mungkin dikompromikan, maka maslahat didahulukan ketimbang yang lain…”[10]
Adapun yang dimaksud dengan penjelasan beliau, “Bi thariq at-takhshish wa al-bayan lahuma (dengan cara menjadikan maslahat sebagai pen-takhshis dan penjelasan bagi keduanya)”, maksudnya sebagaimana yang beliau nyatakan dalam kitabnya, Syarh Mukhtashar ar-Rawdhah, bahwa takhshish di sini adalah bayan (penjelasan), karenanya mukhashshish artinya mubayyin (menjelaskan). Karenanya, ketika beliau menyatakan, bahwa akal layak dijadikan sebagai bayan, maksudnya adalah akal bisa digunakan untuk menjelaskan maksud firman Allah.[11] Jadi, bukan menjadikan akal sebagai dalil atau sumber hukum.
Sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Abu Zahrah, bahwa menjadikan maslahat ini sebagai ‘illat tidak identik dengan menjadikan akal sebagai dalil. Al-Qadhi Taqiyuddin an-Nabhani menyatakan, “Para ulama ushul itu menyatakan, bahwa maslahat ini harus dinyatakan oleh dalil sehingga keberadaan di dalam hukum layak disebut ‘illat bagi hukum tersebut.” [12]
Tentang maslahat sebagai ‘illat ini juga telah beliau bedah dengan tuntas dalam Asy-Syakhshiyyah al-Islamiyyah juz III, yang intinya bahwa maslahat bukanlah ‘illat hukum, dan tidak bisa dijadikan sebagai ‘illat hukum. Siapa saja yang ingin mendalaminya, hendaknya merujuk pada kitab tersebut.
Dengan demikian, jelas akal dan fakta bukanlah sumber hukum, dan tidak bisa dijadikan sebagai sumber hukum. Maslahat juga tidak bisa dijadikan sebagai ‘illat hukum, dan karenanya maslahat juga bukan sumber hukum. Wallahu a’lam. [KH Hafidz Abdurrahman]
Catatan kaki:

[1] Dr. Khalifah Ba Bakr al-Hasan, Al-Adillah al-Mukhtalafah fiha ‘inda al-Ushuliyyin, Maktabah Wahbah, cet. I, 1987, hlm. 5-6; Syaikh ‘Abdul Wahhab Khallaf, ‘Ilmu Ushul al-Fiqh, Maktabah ad-Da’wah al-Islamiyyah, Syabab al-Azhar, cet. VIII, 1968, hlm. 20.
[2] Ibid, hlm. 6-7; Dr. ‘Abdul Karim Zaidan, Al-Wajiz fi Ushul al-Fiqh, Dar at-Tauzi’ wa an-Nasyr al-Islami, Kaero, cet. I, 1993, hlm. 149-150.
[3] Al-‘Allamah Saifuddin al-Amidi, Al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam, Dar al-Kitab al-‘Arabi, Beirut, 1404, I/208; al-‘Allamah Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, Asy-Syakhshiyyah al-Islamiyyah, Dar al-Ummah, Beirut, edisi Muktamadah, 2005, III/64 dan 404.
[4] Al-‘Allamah Abu Ishaq as-Syathibi, Al-Muwafaqat fi Ushul as-Syari’ah, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Beirut, tt. I/23; al-‘Allamah Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, Ibid, hlm. 66; al-‘Alim al-Ushuli Syaikh ‘Atha’ Abu Rusythah, Taysir al-Wushul ila al-Ushul, Dar al-Ummah, Beirut, cet. III, 2000, hlm. 55.
[5] Al-Imam Muhammad Abu Zahrah, Ushul al-Fiqh, Dar al-Fikr al-‘Arabi, tt, hlm. 69-70.
[6] Al-Qadhi Abu Bakar al-Baqillani, Al-Anshaf fima Yajibu I’tiqadahu wa La Yajuzu al-Jahlu bihi, Maktabah al-Khaniji, Kaero, cet. III, 1993, hlm. 50; al-‘Allamah Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, Mafahim Hizb at-Tahrir, Dar al-Ummah, edisi Muktamadah, hlm…
[7] Al-‘Allamah Abdurrahman ‘Adhuddin al-Iji, Al-Mawaqif fi ‘Ilm al-Kalam, ‘Alam al-Kutub, Beirut, tt., hlm. 323-324; al-‘Allamah Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, Asy-Syakhshiyyah, III/14-18.
[8] Al-Imam Muhammad Abu Zahrah, Ibid, hlm. 70.
[9] Al-Imam Najmuddin at-Thufi, Risalah fi Ri’ayat al-Mashlahah, ed. Dr. Ahmad Abdurrahim as-Sayih, ad-Dar al-Mishriyyah al-Lubnaniyah, cet. I, 1993, hlm. 23-24.
[10] Ibid, hlm. 44-45.
[11] Al-Imam Najmuddin at-Thufi, Syarh Mukhtashar ar-Raudhah, ed. Abdullah at-Turki, Muassasah ar-Risalah, Beirut, cet. I, 1409, II/555; ath-Thufi, Qaidah fi ‘Ilm al-Kitab wa as-Sunnah, ed. Muhammad ‘Abdul ‘Aziz al-Mubarak, tt, hlm. 18.
[12] Al-‘Allamah Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, Asy-Syakhshiyyah, III/375.
*
Share/Bookmark
This entry was posted on 11:24 PM and is filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

0 komentar:

Daftar Isi

hosting murah, gratis domain





Kumpulan Bantahan – Jawaban Ilmiyyah HT (Resmi) & Syabab Atas Berbagai Fitnah Terhadap HT

Tanya Jawab Seputar Hizbut Tahrir & Metode Dakwah:

Tanya Jawab Seputar Hizbut Tahrir (1)
Tanya Jawab Seputar Hizbut Tahrir (2)
Tanya Jawab Seputar Hizbut Tahrir (3)
Hizbut Tahrir Adalah Partai Politik Yang Berdiri Sendiri Tidak Mewakili dan Tidak Diwakili Oleh Siapapun
Cara HT Mengungkapkan Dirinya Sendiri
Jawaban Tuntas Pertanyaan Berulang Seputar Khilafah dan Hizbut Tahrir
Mengenal Hizbut Tahrir
Tahapan Dakwah dan Aktivitas Politik Hizbut Tahrir
Jalan Rasulullah saw, Jalan Pasti Menuju Tegaknya Khilafah
Hizbut Tahrir : Dakwah Islam Pemikiran, Politik, dan Tanpa Kekerasan
Kenapa Hizbut Tahrir Partai Politik ?
Memoar Syaikh Abu Arqam (Generasi Awal Hizbut Tahrir)
Sejarah Awal Masuknya Hizbut Tahrir ke Indonesia
Ustadz Abu Zaid (DPP HTI): HT Hanya Meneladani Metode Dakwah Nabi SAW
Jalan Menuju Khilafah
Jalan Utopia Menuju Khilafah
Hizbut Tahir Menilai Berhasil Kenalkan Konsep Khilafah
Fikrah Akidah Islam
Capaian Muktamar Khilafah 2013
Muktamar Khilafah Sia-sia?
Wawancara Koran al Liwa’ dengan Ustadz Ahmad Al-Qashash (Media Informasi Hizbut Tahrir Lebanon) : Hizbut Tahrir Berasaskan Aqidah Islam
Wawancara Wartawan Al Quds Al Arabi dengan Ahmad Al-Khatib (Anggota Media Informasi Hizbut Tahrir) di Palestina
Keterangan Pers: Hizbut Tahrir yang Berjuang untuk Khilafah dengan Garis Perjuangan yang Sudah Tetap Tidak Akan Berhenti Menarik Perhatian Terhadapnya!
Jangan Takut Bergabung dengan Hizbut Tahrir

Koreksi Ilmiyyah HT atas Fitnah & Kesalahan Pemikiran:

Koreksi Atas buku WAMY dan Buku-Buku Derivatnya (Al-Thariiq ilaa Jamaa’at al-Muslimiin)
Koreksi Atas Artikel Sabili: “Menguak Hizbut Tahrir”
Catatan Jubir: HT Elitis?
Beberapa Tanggapan Terhadap Khilafah
Hizbut Tahrir dan Pemboikotan Media Massa (Media Anti Islam)
Hizbut Tahrir adalah Gerakan Islam yang Bekerja Membangun Negara Khilafah yang Merupakan Kewajiban Syariah dengan Metodologi yang Jelas dan Hanya Berdasarkan Syariah yang Benar
Melarang Aspirasi Penegakkan Syariat dan Khilafah Adalah Menentang Karya Agung Para Ulama dan Melestarikan Kerusakan Sistem Demokrasi
Catatan Atas Pemberitaan Seputar Hizbut Tahrir Terkait Konferensi Media Global
Hizbut Tahrir Berjuang Berlandaskan Islam (Tanggapan Atas Artikel Syathah di Surat Kabar Al-Intibahah)
Gerakan Islam dan Masalah Khilafah (Tanggapan Hizbut Tahrir Atas Surat Kabar Al-Ahram)
HT Turki: Siapa yang Mengklaim Adanya Hubungan antara Hizbut Tahrir dengan Ergenekon
Bantahan Terhadap Beberapa Kerancuan Koran asy-Syarq al-Awsath Terhadap Hizbut Tahrir
KETERANGAN PERS: Bantahan Hizbut Tahrir Indonesia Terhadap Buku Ilusi Negara Islam
Ilusi Buku Ilusi Negara Islam
Demokratisasi atau Revitalisasi? (Tanggapan untuk Ahmad Syafii Maarif)
Kenapa Ideologi Islam Dianggap Asing, Sedangkan Kapitalisme Tidak?
Bantahan Terhadap Artikel Dr Syafii Ma’arif
Koran “Shariato Phobia” (Kritik Terhadap The Jakarta Post)
Catatan Jubir HTI: The Jakarta Post dan Bias Media
The Jakarta Post/opinion : Inaccurate and misleading reports on HTI
Mencabut Terorisme dengan Dakwah (Tanggapan Untuk Jawa Pos)
Tanggapan Terhadap Artikel di Koran Ar-Riyadh
HT Turki Bantah Tudingan Media Massa
Hizbut Tahrir Wilayah Lebanon Tolak Tudingan Melakukan Aksi Bersenjata
Keputusan Penuntut Umum Denmark: Membatalkan Tuduhan Palsu Terhadap Hizbut Tahrir
Tanggapan HTI Jawa Barat Atas Berita Berjudul: ”Bangladesh Menahan 27 Penyebar Selebaran” Di Pikiran Rakyat Pada Edisi Ahad, 15 Maret 2009

Amir HT Berjuang Keras Bersama Umat:

Profil Amir HT Ke-1 Al-’Allamah Asy-Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani
Profil Amir HT Ke-2 Al-’Alim Asy-Syaikh ‘Abdul Qadim Zallum
Profil Amir HT Ke-3 Al-’Alim Asy-Syaikh ‘Atha bin Khalil Abu Ar-Rasythah
Memoar dari Penjara dan Indahnya Persahabatan bersama Amir Hizbut Tahrir, Al-Alim –Al-Jalil Sheikh Ata bin Khalil Abu al- Rashtah
Alhamdulillah, Facebook dan Twitter Resmi Amir Hizbut Tahrir Al-‘Alim ‘Atha bin Kholil Abu Ar-Rasytah Diluncurkan
Page FB Resmi Amir HT
Website Resmi Amir HT
Amir Hizbut Tahrir: Dukunglah Penegakkan Khilafah
Teks Pidato Amir Hizbut Tahrir Kepada Warga di Suriah
Surat Amir Hizbut Tahrir Kepada Salah Seorang Ulama Al-Azhar Syaikh Hasan al-Janaini yang Menjadi Pejuang Khilafah

Testimoni Sebagian Pandangan Ulama, Tokoh tentang HT & Perjuangan Menegakkan Syari’ah wal Khilafah:

Prof. Hassan Ko Nakata: Hanya Hizbut Tahrir Gerakan Politik Islam yang Memperjuangkan Terealisasinya Khilafah
Salah Satu Guru Besar Al-Azhar Al-Syariif Menjadi Pejuang Khilafah
Brigadir Hussam Alawak Menjelaskan Mengapa Ia Percaya Bahwa Hizbut Tahrir Adalah Kekasih Allah
Kumpulan Testimoni: Kita Akan Dukung Terus Hizbut Tahrir
Buya dan Asatidz Sumbar: Hizbut Tahrir Wadah Perjuangan Para Alim Ulama Untuk Menegakkan Khilafah
Testimoni Ulama: “Saya mahzabnya bukan Rambo yang berjuang sendirian, maka saya bergabung dengan Hizbut Tahrir”
Kiyai Dadang: “Saya Mendukung Hizbut Tahrir Sepenuh Hati, dan Siap Membantu dengan Segenap Kemampuan yang Ada”
Ulama Sumedang, Siap Berjuang Bersama Hizbut Tahrir Untuk terapkan Syariah dan Khilafah
Ulama Banjarnegara: “Begitu Kenal Dengan HTI, Saya Langsung Jatuh Hati”
Gus Lubabul: “Saya Warga NU, Tetapi Secara Batiniah Merasa Anggota HTI”
Komentar Beberapa Tokoh Lampung Terhadap Manifesto Hizbut-Tahrir untuk Indonesia
Workshop Ulama Rancaekek Timur:“Saya ingin Khilafah tegak besok”
Tokoh Lampung; Jiwa Kami Tetap Akan Mendukung Perjuangan HTI dalam Menegakkan Khilafah
Kalau Bisa HTI Rutin Memberikan Pencerahan kepada Jamaah
Ustadz Arifin Ilham : Puncak Kesufian Dalam Islam Adalah Dakwah dan Jihad Untuk Tegaknya Syariah dan Khilafah!
Pimpinan Ponpes Nurul Ulum Jember, KH. Abdullah: Kami Jalin Hubungan dengan HTI
Peduli Akan Wajibnya Berhukum Dengan Syariat Islam Kyai Muchlash Zain Undang Para Ulama dan Tokoh Ummat
Ulama Jabar: Kami Akan Terus Mensosialisasikan Wajibnya Syariah dan Khilafah!
Workshop Ulama Jawa Timur I : “Penyatuan Sikap dan Langkah Ulama Untuk Penegakan Syariah”
Ulama Mendukung Hizbut Tahrir Perjuangkan Syariah dan Khilafah

HT Pecahan dari Al-Ikhwan Al-Muslimin?

Kala Sebagian Pemimpin dan Anggota Al-Ikhwan Al-Muslimin Jatuh Hati Kepada Hizbut Tahrir
Syaikh Taqiyudin An-Nabhani Bukan Deflektor dari Gerakan Ikhwan

HT, Perjuangan Menegakkan Al-Khilafah & Jihad:

Tanya Jawab atas Ungkapan “Jihad Bukan Metode untuk Menegakkan al-Khilafah”
Jihad dalam Perspektif Hizbut Tahrir
Ustadz Ahmad Al-Qashash (Media Informasi Hizbut Tahrir Lebanon): Jihad Hukumnya Wajib!
Haji & Jihad
Soal Jawab Amir HT: الجهاد في العمل لإقامة الدولة
Soal Jawab Amir HT (Terjemah): Jihad dalam Perjuangan Untuk Menegakkan Daulah dan Ifadhah dalam Haji
Menyoal Perjuangan Bersenjata Untuk Menegakkan Daulah Islamiyah

HT & Pembahasan Bid’ah:

Jawab Soal Amir HT: Tentang Bid’ah

HT, Syi’ah & Sufy:

Kami Tidak Memiliki Hubungan dengan “Hizbut Tahrir Mesir yang Sufi” atau “Hizbut Tahrir Baru yang Syiah”
Tanya Jawab Amir HT: Hukum Taqiyyah & Syi’ah
Sunni-Syiah dalam Naungan Khilafah
HTI: Konsep Khilafah Islam Berbeda dengan Konsep Imamah Syiah
Syi’ah Dalam Kitab Resmi Hizbut Tahrir

HT & Syi’ah – Khomeini:

Tawaran Hizbut Tahrir Kepada Khameini
Syubhat: Hizbut Tahrir Mau Membai’at Khomeini Sebagai Khalifah?
Tidak Benar HT Pernah Tawarkan Khomeini Menjadi Kholifah

HT & Madzhab:

Hizbut Tahrir Apakah Sebuah Madzhab?
Bagaimana Menyikapi Perbedaan Madzhab
Persoalan Seputar Madzhab
Ahmadiyah: Perbedaan atau Penyimpangan?

HT, Khilafah & Imam Al-Mahdi

Perkataan Imam Bukhari “Fiihi Nazhar” Mengenai Seorang Perawi Hadits Tidak Selalu Melemahkan Haditsnya
Khilafah Bukan Negara Mazhab
Ulama Empat Mazhab Mewajibkan Khilafah
Dalil yang Tegas Tentang Kewajiban Khilafah
Kewajiban Menegakkan Khilafah
Jawab Soal: Hadits Bisyarah
KH. Drs. Hafidz Abdurrahman, MA : Hizbut Tahrir Sudah Punya Master Plan dan Road Map Untuk Menegakkan Khilafah
Ust H. Musthafa A Murtadho: Menegakkan Khilafah: Kewajiban Ulama
Menegakkan Khilafah bukan hanya Kewajiban Hizbut Tahrir
Haram Berdiam Diri Dari Menegakkan Khilafah Dengan Alasan Menunggu Imam Mahdi
Imam Mahdi dan Khilafah
Betulkah Imam Mahdi yang akan Mendirikan Khilafah?
Khilafah Islamiyah Akan Menyatukan Umat di atas Asas Islam dan Akan Mengadopsi Politik Industrialisasi Yang Kuat dan Menyeluruh
Upaya Mendirikan Khilafah
Seputar Dakwah untuk Mendirikan Khilafah
Deradikalisasi: Upaya Menghambat Pendirian Khilafah
Khilafah dan Strategi Industrialisasi Dunia Islam
Khilafah Menyatukan Umat Islam

Siapakah Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah?

Siapakah Aswaja’
Siapakah Aswaja’ (2)
Khilafah Menurut Ahlus Sunnah Wal Jamaah

Bantahan atas Syubhat Seputar HT, Hadits Ahad, Siksa Kubur

An-Nabhani: Hadits Ahad Tidak Diingkari Meski Tidak Menjadi Dalil Dalam Akidah
Pendirian Ibnu Hajar Mengenai Hadits Ahad yang Diperkuat oleh Qarinah
Jubir Hizbut Tahrir Lebanon: Wajib Mempercayai Masalah Siksa Kubur dan Dajjal
Ibnu Burhan: Hadits Ahad Riwayat Bukhari dan Muslim Tidak Qath’i
Khabar Ahad dalam Pandangan Ulama Ushul
Fatâwa Al Azhar Tentang Khabar Ahad
Pandangan Ormas Muhammadiyah & NU Tentang Khabar Ahad dalam Masalah Aqidah
Perbedaan antara Aqidah dan Hukum Syara’
Diskusi Khabar Ahad (Lanjutan I)
Metode Penetapan Aqidah
Al-’Ilmu wa Al-Dzan
Kedudukan Khabar Ahad dalam Masalah Aqidah

HT Memperbolehkan Pornografi?

Tanya Jawab: Menyaksikan Film ‘Panas’ dan Tikaman (Fitnah) Atas Hizbut Tahrir
Tanya Jawab Amir HT: Hukum Menonton Film di Bioskop dan Menonton Film Panas (Porno)?

HT adalah Mu’tazilah? Khawarij?

Apakah HT adalah Khawarij atau Muktazilah?
Bahasan Thariqul Iman (Kitab HT) & Penjelasan Imam Ibnu Qudamah
Pandangan Hizbut Tahrir Tentang Khawarij
Hizbut Tahrir Khawarij?
Bagaimana Mensikapi Kelompok Sempalan?
Sekilas Nasihat Al-’Alim Asy-Syaikh ‘Atha bin Khalil untuk Berhati-Hati Terhadap Vonis Takfir Serampangan

Syabab HT “OMDO”?

”Syabab HT Omdo”?! Inilah Jawaban Al-Qur’an & Al-Sunnah (Jawaban Tuntas Syar’iyyah)
Bicaralah! (Ust. Dr. M. Rahmat Kurnia – DPP HTI)
Edukasi Publik, Sia-sia?
M. Ismail Yusanto: Dukungan Umat Makin Nyata!
Muhammad Saleem (Aktifis Hizbut Tahrir Inggris) : Perubahan Membutuhkan Opini Publik!

Haram Golput?

Parlemen Bukan Satu-satunya Jalan Perubahan (Ada Jalan Lain yang Jelas Syar’i)
Pemilu dan Perubahan
Hukum Islam Atas Koalisi Parpol Islam dan Parpol Sekuler dalam Pandangan Islam
Hukum Islam Menjadi Caleg dalam Sistem Demokrasi
Masih Percaya Pada Demokrasi?
Parpol Islam Kian Pragmatis
Perubahan Revolusioner Perspektif Islam
Tanggapan Hizbut Tahrir Indonesia Terhadap Fatwa MUI Tentang Golput Tahun 2009
Ismail Yusanto: Seharusnya Fatwa Haram Terlibat dalam Sistem Sekuler
Fatwakanlah Wajibnya Menerapkan Syariah Islam!
Jubir HTI, HM Ismail Yusanto: Umat Harus Mendukung Partai Islam Ideologis
Pemilu 2009: Umat Berharap Pada Partai Yang Memperjuangkan Syariah Islam
Komentar Politik : Golput Meningkat, Elit Politik Panik
Partai Islam, Jangan Sekedar Basa-Basi
Ulama dan Khilafah: Islam Agama Sekaligus Negara
Ulama’ Dinilai Karena Sikapnya, Bukan Sebatas Ilmunya
Kedudukan Fatwa dalam Syariat Islam
Ulama Wajib Mengoreksi Penguasa
Bedah Qaidah Ahwanu Al-Syarrain (قاعدة أهون الشرين)
Bolehkah Berdalil Dengan Nabi Yusuf?
Soal Jawab: Partisipasi di dalam Sistem Kufur (Jawaban Amir Hizbut Tahrir Terhadap Penggunaan Hujjah Perbuatan Nabi Yusuf as dan Raja Najasyi)

HT & Ghibah (Menjawab Tuduhan bahwa HT Tukang Ghibah (Konotasi Negatif))

Penjelasan al-’Allamah al-Imam al-Nawawi Tentang Perincian Ghibah (Part. I)
Slide Show Kajian HT Cianjur “Menjaga Lisan & Hukum Ghibah dalam Islam”

HT & Hukum Muqatha’ah

Bolehkah Memutus Hubungan Dengan Sesama Muslim?
Soal Jawab: Hukum Memutus Hubungan (Muqatha’ah) dengan Sesama Muslim

HT Mengabaikan & Menyepelekan Akhlak?

Kritik Syabab atas Para Pencela HT “Menyepelekan Akhlak”

Syabab HT Menikmati Demokrasi?

Inilah Jawaban-Jawaban Kami atas Berbagai Dalih Pembenaran Atas Demokrasi (Kumpulan Makalah Ilmiyyah)
Menjustifikasi Demokrasi dengan Dalih Menikmatinya? (Jawaban Argumentatif)
Menikmati Demokrasi? Apa Kata Imam Sufyan al-Tsauri?
Berterima Kasih Pada Demokrasi?
KH Shiddiq al-Jawi: Islam Menolak Demokrasi
Kerusakan Negeri Oleh Demokrasi
Siapa Diskriminatif?
Dalam Demokrasi, Siapapun Cenderung Jadi Buruk
Dampak Buruk Sistem Demokrasi
Wajah Buruk Demokrasi
Hakikat Buruk Demokrasi
Dengan Demokrasi, Orang Jadi Munafik

Hizbut Tahrir dan Amirnya Tidak Anti Kritik & Koreksi:

Jawab Soal Amir HT: Penolakan Hizbut Tahrir dan Amirnya atas Berbagai Kritik dan Koreksi
Klarifikasi Seputar Penolakan Hizbut Tahrir dan Amirnya atas Kritik dan Koreksi

Hizbut Tahrir Memperbolehkan Mencium Wanita Ajnabiyyah?

Benarkah Hizbut Tahrir Memperbolehkan Mencium Wanita Ajnabiyyah?

Thalabun Nushrah Itu Hukum Syara’ – Metode Dakwah Rasulullah SAW!

Tanya Jawab Amir HT: Thalabun Nushrah
KH Ali Bayanullah Al Hafidz: “Ibadah Haji, Momentum Thalabun Nushrah”
Ustadz Syamsudin Ramadhan : Tholabun Nushroh Metode Syar’i Menegakkan Khilafah
Soal Jawab Thalab an Nushrah
Thalabun-Nushrah: Kunci Perubahan
Thalabun Nushrah Bagian dari Metode Dakwah Rasulullaah SAW

Batas Waktu Kekosongan Tegaknya Al-Khilafah yang Merupakan Kewajiban

Jawab Soal Amir HT: Tenggak Waktu yang Diperbolehkan bagi Kaum Muslimin untuk Menegakkan al-Khilafah
Umat Haram Tanpa Khalifah Lebih Dari Tiga Hari?

Hukum Status Ormas Islam

Jawaban atas Tuduhan Terhadap HTI Terkait Status “Ormas Islam” (I)
Tanya Jawab dengan Amir HT

Kumpulan Bantahan Ilmiyyah atas Berbagai Dalih Pembenaran terhadap Demokrasi

Inilah Jawaban-Jawaban Kami atas Berbagai Dalih Pembenaran Terhadap Demokrasi (Kumpulan Makalah Ilmiyyah)

Kumpulan Nasihat-Nasihat Terkait

Nasehat Berharga Syaikh Thalib Awadallah Kepada Syabab Hizbut Tahrir Dalam Berdebat
Adab-Adab Berdebat dalam Islam (Kajian Kitab Nafsiyyah Islamiyyah)
Nasihat atas Perdebatan yang Tidak Syar’i (Saling Mengolok-Olok, -)
Kecaman Syari’at Terhadap Sifat Takabur & Sikap Melecehkan Lawan Diskusi
Hati-Hati Berfatwa Tanpa Ilmu
Nasihat Asy-Syaikh ‘Atha bin Khalil Atas Pentingnya Iman Terhadap Akhirat (Kajian Tafsir Syaikh ‘Atha)
Adab Bergaul Dengan Sesama Muslim

Kumpulan Download Bantahan Ilmiyyah (File Ppt, Pdf & Word):

Menjawab Syubhat terhadap Ide-ide Hizbut Tahrir ==>direct download, resumeable
Menjawab Syubhat terhadap Ide-ide Hizbut Tahrir ==>alternatif
Bantahan HT atas Tulisan Idrus Ramli

Kumpulan Download E-Book Kitab HT (Arab – Indo)

Download Sebagian E-Book Kitab Hizbut Tahrir (Gratis)
Unduh Kitab-Kitab HTI – 1
Unduh Kitab-Kitab HTI – 2

Kumpulan Buku pemikiran IMAM TAQIYUDDIN ANNABHANI

[00] tarif hizbut tahrir.zip
[01] pembentukan partai politik islam.zip
[02] Negara Islam.zip
[03] Titik Tolak Perjalanan Dakwah HT.zip
[04] terjun ke masyarakat.zip
[05] sistem pemerintahan islam.zip
[06] dustur.zip
[07] ahkamush sholat.zip
[08] kaidah kausalitas.zip
[09] dinamika aqidah islam.zip
[10] HADITS AHAD.zip
[11] membangun ekonomi alternatif pasca kapitalisme.zip
[12] Materi-Seputar Gerakan Islam.zip
[13] bunga rampai.zip
[14] tinjauan kritis terhadap asas ideologi sosialisme dan kapitalisme.zip
[16] keniscayaan benturan peradaban.zip
[17] kritik islam terhadap uud 1945.zip
[18] menggugat thagut demokrasi.zip
[19] menghancurkan demokrasi.zip
[20] demokrasi kufur.zip
[21] Bunga Bank Haram.zip
[22] diskursus negara islam.zip
[23] metode perubahan untuk melanjutkan kehidupan islam.zip
[24] sebab-sebab kegoncangan pasar modal.zip
[25] SHARIAH ISLAM INDONESIA.zip
[26] Soal Jawab Seputar Khamer.zip
[27] KHUTBAH AIDUL FITRI 1424 H.zip
[28] marhaban ramadhan.zip
[29] Menjinakkan Kesombongan.zip
[30] serangan amerika untuk menghancurkan islam.zip
[31] 36 SOAL JAWAB.zip
[32] 37-SOAL JAWAB.zip
[33] AMWAL.zip
[34] bayyinat.zip
[35] bendera rasul.zip
[36] cantik.zip
[37] DAKWAH WAJIB.zip
[38] DAKWAH JILID 2.zip
[39] fikrul islam.zip
[40] DARKNESS.zip
[41] dirasat.zip
[42] establish.zip
[43] ips-islam politik spiritual.zip
[45] jihad dan politik.zip
[46] kloning.zip
[47] khilafah-solisi.zip
[48a] kepribadian islam 1.zip
[48b] kepribadian islam ii.zip
[48c] kepribadian islam iii.zip
[49] Manhaj Hizb.zip
[50] selamatkan indonesia dengan syariah.zip
[51] materi dakwah.zip
[52] luruskah akidah anda.zip
[53] mafahim islamiyah.zip